Minggu, 28 Agustus 2016

Foto: Ketika Aktivis Lingkungan Hidup Gagal Paham Arti Menjaga Lingungan Hidup | Facebook


Jujur saja, saya geli sekaligus geram melihat aktivis lingkungan yang menolak reklamasi teluk Benoa melakukan aksi bakar ban di Bali tanggal 25 Agustus kemarin. Saya fikir aktivis lingkungan itu hanya bermodal tenggorokan berteriak teriak tentang lingkungan hidup tapi tidak mengerti bagaimana cara nya menjaga lingkungan hidup.

Saya sungguh2 kaget ketika saya browsing ternyata pimpinan kelompok yang menolak reklamasi Teluk Benoa itu adalah Anggota Dewan Nasional Walhi. Seharusnya Walhi memberi pembekalan pengetahuan yang cukup pada seluruh Dewan Nasional nya agar mereka tidak membela lingkungan dengan cara merusak lingkungan.

Maaf, Saya menyebut aktivis lingkungan pembakar ban itu sebagai aktivis lingkungan Gagal Paham 

Dalam tulisan ini saya mau sedikit berbagi pengetahuan tentang Efek dari Pembakaran Ban pada kesehatan manusia dan pada lingkungan hidup.

Saya berharap semoga tulisan ini bisa dibaca oleh Walhi dan khususnya para aktivis lingkungan pembakar Ban di Bali kemarin.

Ban dibuat dari karet dengan kandungan kimia Isobutene. Dalam Ban terdapat kandungan 25% minyak extender, 25% Stirena yg keduanya berasal dari Benzena. Selain itu Ban juga mengandung 25% Butadiena.

Benzena dan Butadiena adalah zat yang sangat beracun bagi manusia.

Jika Ban di bakar maka akan menghasilkan asap yang berisi karbon monoksida (co) dan karbondioksida (co2).

Ketika manusia menghirup gas monoksida maka gas tersebut akan bereaksi dengan hemoglobin dalam darah yg dapat menghambat lalulintas oksigen dan membahayakan nyawa manusia.

Asap yang dihasilkan dari pembakaran Ban ternyata juga mengandung partikel partikel Zinc Oxide. Jika asap yg mengandung Zinc Oxide itu di hirup maka akan menimbulkan radang paru2.

Pembakaran Ban meningkatkan kadar dioksin dan merkuri di udara. Menghirup Dioxin dari udara yang dipenuhi mercuri bisa memicu berkembangnya sel sel kanker dalam tubuh manusia.
Gas karbondioksida merupakan gas rumah kaca yang dapat menjadi pemicu pemanasan global.

Walau saya di berdomisili di Sidney tapi saya sangat mencintai Alam Indonesia. Sampai tiga hari lalu saya juga menolak Reklamasi Teluk Benoa, namun hari ini saya harus sampaikan bahwa saya sangat kecewa dan meragukan argumentasi yang disampaikan aktivis yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Keraguan itu muncul ketika aktivis aktivis yang membela lingkungan itu pada faktanya malah melakukan aksi aksi yang justeru merusak lingkungan.

Semoga pengetahuan ini bermanfaat bagi kita semua. 

Hormat saya, seorang Ibu rumah tangga biasa yang mencintai lingkungan.


Facebook2016

Sabtu, 27 Agustus 2016

Foto: Surat Pemberitahuan Lurah Ilir Gunungsitoli


Sehubungan dengan Postingan di Media Sosial (FB) perihal Surat Lurah Ilir Gunungsitoli kepada Para Peternak Babi tanggal (24/08/2016) yang isinya “Agar Para Peternak Babi yang berada di Gang Ikhlas Kel. Ilir Gunungsitoli untuk memindahkan ternaknya dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah Surat Lurah tersebut Beredar.

Sehubungan dengan surat tersebut telah beredar di Media Sosial FB, dan ditanggapi dengan Beraneka Ragam oleh Para pengguna Medsos, maka dengan ini kami dari Polres Nias, menyampaikan beberapa Himbauan dan Informasi kepada seluruh Masyarakat antara Lain:

1. Bahwa tadi malam (Sabtu 27/08/2016) sekitar Pukul 01.00 Wib, bertempat di Kantor Camat Gunungsitoli, telah berlangsung pertemuan para Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda bersama Pemerintah Kecamatan Gunungsitoli. antara lain Camat Gunungsitoli Ibezaro Ziliwu, S.STP, Pdt. Berkat K. Laoli (BPD GPT Nias); Pdt. Bethel Ndraha, MA, (Ketum PGLII), Pdt. Yonatan Laoli, M.Th, (Ketua PGPI KG), Ev.Gabriel Edison Zalukhu, S.Th, (Penasehat Gekribnis), Abu Bakar Syidiq Hia, S.Pd, (Lurah Ilir), Abdul Majid Caniago, SE, M.Si, (Wakil Ketua MUI ),Sekcam Gunungsitoli Wahyu Gulo, S.STP, Mazdan Almahdali (Warga)


2. Hasil Musyawarah bersama Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan pemerintah Kecamatan Gunungsitoli menyimpulkan antara lain:
  • Permasalahan yang terjadi di Gang Ikhlas Lingkungan I Kelurahan Ilir Gunungsitoli murni hanya kesalahpahaman dan tidak terkait Unsur SARA

  • Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat bersama pemerintahan Kecamatan Gunungsitoli sepakat untuk menyelesaikan permasalahan atau kesalahpahaman tersebut dengan baik melalui musyawarah dan kekeluargaan. 

  • Terkait surat lurah Ilir Kecamatan Gunungsitoli yang telah beredar di masyarakat dan Media Sosial akan ditinjau kembali sesuai dengan peruntukannya.

  • Tokoh agama dan Tokoh Masyarakat Kecamatan Gunungsitoli sepakat untuk menjaga situasi kondusif, serta menghimbau kepada seluruh warga masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dan senantiasa menjaga kerukunan antar umat beragama.

3. Untuk itu, kami dari Polres Nias sebagai pembina Fungsi Kamtibmas, mengharapkan kepada seluruh Masyarakat dan juga pengguna Media Sosial agar tidak Terhasut dengan Isyu-isyu yang hanya ingin mengganggu Situasi Kamtibmas.

4. Komentar di Media Sosial yang bernada mengajak/menghasut untuk melakukan sesuatu “Tindakan” hendaknya hal tersebut tidak dilakukan, demi terjaganya situasi yang nyaman di tengah-tengah Masyarakat.

5. Situasi yang aman dan Kondusif disertai dengan Toleransi yang selama ini sudah terjalin hendaknya tetap kita pertahankan, dan kita harus bisa menunjukan bahwa “Damai Itu ada di Nias”


6. Demikian Himbauan ini Kami sampaikan, untuk kita semua.
(Sumber: Postingan Pdt. Berkat K. Laoli, Pdt. Bethel Ndraha di Media Sosial FB)

Polres Nias
Foto: Surat Pemberitahuan Lurah Ilir Gunungsitoli


Abubakar Sidik Hia, S.Pd, Lurah Kelurahan Ilir Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli mengeluarkan surat edaran untuk menertibkan peternak babi di lingkungan pemerintahannya. Hal ini untuk menidaklanjuti surat warga Gang Ikhlas Lingkungan I Kelurahan Ilir tentang keluhan atas adanya ternak babi yang mana sangat mengganggu dan sangat meresahkan masyarakat di sekitarnya.

Lurah Kelurahan Ilir, Abubakar Sidik Hia, S.Pd meminta kepada peternak babi di Gang Ikhlas Lingkungan I Kelurahan Ilir untuk memindahkan ternaknya di tempat lain dalam waktu 7 hari sejak surat yang dimaksud dikeluarkan.

Menanggapi surat pemberitahuan dari Lurah Ilir tersebut, memicu spekulasi di tengah-tengah masyarakat bahkan dikaitkan dengan SARA (Suku, Agama dan Ras). Adalah kehebohan tersebut terjadi melalui media sosial facebook. Tidak sedikit juga warga yang menyambut positif rencana tersebut.

"Pemindahan ternak babi bisa saja dilakukan, namun perlu tempat alternatif yang harus dipikirkan oleh Lurah Ilir, bukan hanya menyuruh untuk pindah dalam jangka 7 hari". ungkap salah satu warga.

"Kalo untuk kebersihan lingkungan sih harus. Itu kan kota ya, cermin dari wilayah pulau itu. Orang datang, orang berlalu pasti ngelewatin, masa iya harus pk masker sembari tutup hidung. Apa lg kwasannya padat pendduk. Khan kbijakan itu memperbaiki tatanan kota yg lebih baik. Gmn mau maju pariwisatanya klo kbijakan daerah tidak di turuti dan hanya menguntungkan salah satu pengusaha yg bergerak di bidang peternakan..?" komentar Anwar Halawa disalah satu media sosial.

Jumat, 26 Agustus 2016

Foto: Kebakaran Rumah Warga Desa Ononamolo Alasa Nias Utara | Boy Zaluchu


Kebakaran melanda rumah warga Desa Ononamolo Alasa, Kecamatan Alasa Kabupaten Nias Utara, Provinsi Sumatera Utara hangus terbakar, Jumat (26/08/2016) sekitar pukul 08:00 WIB waktu setempat. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu namun kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

Sampai berita ini diturunkan, api belum berhasil dipadamkan oleh warga.


Foto: Kebakaran Rumah Warga Desa Ononamolo Alasa Nias Utara | Boy Zaluchu

Dari informasi yang diperoleh, kebakaran ini berawal dari api dapur rumah tangga yang belum dimatikan secara benar sehingga api semakin membesar mengingat rumah warga yang terdiri dari papan.

Foto: Kebakaran Rumah Warga Desa Ononamolo Alasa Nias Utara | Boy Zaluchu

Ada tiga rumah warga yang hangus terbakar, yakni rumah A. Nodal, A. Irman, A. Mize dan kemungkinan besar akan merembes ke rumah warga yang lain jika api belum bisa dipadamkam.

Skandal SMA Mesum di Ruang Kelas Sekolah


Foto: Skandal SMA Mesum di Ruang Kelas | Google.com


Terlalu! Sepasang kekasih yang masih duduk di bangku SMA Negeri Tuban, Jawa Timur (Jatim), tertangkap basah sedang bersetubuh di ruang kelas usai bubaran sekolah.

Kedua pelajar kelas II SMA itu dipergoki penjaga sekolah yang curiga dengan suara desahan dari dalam kelas. Seharusnya kelas dalam kondisi kosong, karena jam sekolah telah berakhir.

Penjaga sekolah itu kemudian mengintip dari dinding kawat sekolah, karena pintu ruangan kelas dikunci dari dalam. Penjaga sekolah itu langsung syok saat melihat dua pelajar SMA itu bugil dan sedang bersetubuh.

Disebutkan, saat dipergoki pelajar perempuan itu dalam posisi tiduran telentang di meja, sementara pelajar laki-lakinya dalam posisi berdiri sedikit membungkuk. Sementara seragam sekolah keduanya berserak di lantai.

Mengetahui ada dua pelajar yang berbuat cabul di ruang kelas, penjaga sekolah itu langsung mendobrak pintu hingga terbuka. Ia meminta keduanya untuk memakai pakaian, lalu memanggil petugas Polsek Widang.

Polisi lalu membawa dua pelajar yang keterlaluan itu ke Mapolsek untuk diproses. “Kedua orang tuanya kami panggil, agar anaknya dapat dibina,” terang Kapolsek Widang, AKP Nur Khozin, saat dikonfirmasi.

Nur Khozin menolak menerangkan kronologis kejadiannya. Dia beralasan kasusnya telah diselesaikan dengan perdamaian kedua orang tua pelajar itu.

Pasutri Ini Ditonton Orang Bersetubuh Demi Uang 800 Ribu

medansatu.com
Foto: Pasutri Ini Ditonton Orang Bersetubuh Demi Uang 800 Ribu | Google.com


Pasangan suami istri (Pasutri) berinisial A (33) dan Leny (31) digelandang polisi lantaran melakukan perbuatan mesum dengan cara mempertontonkan adegan porno pada orang lain. Tragisnya lagi, pelanggan pasutri ini bisa mencicipi tubuh sang istri dan merekam adegan tersebut.

Wakasat Reskrim Polres Jakarta Selatan Kompol Murgiyanto mengatakan, penangkapan itu terjadi saat polisi menerima laporan adanya iklan di situs internet yang berisi menawarkan tontongan porno secara langsung di sebuah apartemen. Polisi pun akhirnya menggerebek tempat pelaku beraksi di Apartemen Gateway Pesanggrahan, Jaksel.

“Jadi, selain mempertontonkan hubungan intim di hadapan pelanggannya itu, pasutri itu juga mempersilahkan pelanggan berhubungan badan dengan istrinya itu. Tempatnya yah di Apartemen Gateway itu,” ujarnya pada wartawan di Polres Jaksel, Jumat (20/5/2016).

Menurutnya, kedua pasutri itu pun tak sembarangan memilih pelanggannya. Pelanggannya haruslah yang sudah bekerja. Sebab, dia tak mau ada pelanggan yang masih pelajar lantaran takut tak dibayar. 
Setelah pelanggannya menghubungi kontak yang ada di iklan internet itu, pelanggannya pun dimintai sejumlah uang agar bisa menyewa jasa pasutri itu.

“Tarifnya sekali main itu Rp 800 ribu, sudah termasuk sewa kamar dan pelanggan sudah bisa ikut hubungan badan juga serta boleh direkam juga sama pelanggannya,” tuturnya.

Berdasarkan pengakuannya, kedua pasutri itu melakukan aksinya lantaran terhimpit ekonomi. Suaminya yang berinisial A itu seorang pengangguran, sedang istrinya yang bernama Leny berstatus karyawan pabrik. 

“Keduanya ini padahal sarjana semua, A Sarjana Informatika, sedang L Sarjana Ekonomi. Mereka sudah melakukan perbuatannya itu selama setahun dan tak kaya-kaya meski melakukan pekerjaan asusila itu,” jelasnya.

Sejatinya, kata Murgi, Apartemen itu hanya disewa belaka untuk melakukan perbuatan mesumnya, sedang keduanya tinggal mengontrak di kawasan Ciledug bersama dua anaknya. 

Keduanya pun menikah sejak tahun 2010 silam. Pengelola apartemen pun tak tahu kalau kamar yang disewa pasutri itu untuk dipakai sebagai bisnis esek-eseknya.

“Keduanya kami jerat pasal 34 dan pasap 36 UU No. 44 tahun 2008 tentang pornografi dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara. Kami masih dalami lapak di internetnya itu, tak menutup kemungkinan adanya lapak-lapak yang sama seperti kedua pasutri itu,” pungkasnya

potretnegeriku.com
Foto: Ilustrasi Mahasiswi Sewa Pria Untuk Mesum | Sindonews.com



Ulah para mahasiswi dan pemuda sewaanya itu terbongkar setelah para tamu hotel lainnya merasa geram hingga melaporkannya ke aparat kepolisian.

Akhirnya para mahasiswi yang berinisial, N (19), R (20), H (19), dan M (18) beserta empat pemuda yang mengaku disewa oleh para mahasiswi itu untuk menemai digelandang ke Mapolres Polman.

Saat diinterogai polisi mahasiswi ini mengaku sengaja berkumpul di hotel untuk bersenang senang dengan para pemuda yang bukan kekasih mereka.

Ironisnya salah satu mahasiswi mengaku membiayai sewa kamar hotel serta makan minum keempat pemuda tersebut selama empat hari lamanya.

Dari tangan pelaku satuan unit narkoba juga menyita belasan butir pil koplo yang diduga akan dikonsumsi untuk mabuk-mabukan.

Untuk kepentingan penyelidikan, polisi melakukan tes urine keempat mahasiswi tersebut, terlebih lagi salah satu pelaku merupakan resedivis kasus narkoba.

“Sementara keempat pelaku pasangan mesum ini kita tahan guna kepentingan penyelidikan,” pungkas Kapolres Polman.


Sindonews.com


Foto: Wanita Selingkuhan Guru Agama dari PKS Saat Digerebek Warga | Tribunnews.com


Mardiatoz Tanjung, seorang warga di Jalan Gatot Subroto, Simpang Pertanian, Bandar Senembah, Binjai Barat, yang selama ini dianggap sebagai ustaz digerebek warga saat bersama perempuan di kamar mandi, Senin (11/4/2016) sore.

Informasi yang dikumpulkan di lapangan, warga menggerebek pasangan bukan suami-isteri ini dari dalam rumah miliknya yang dijadikan warung internet.

Saat digerebek warga, Mardiatoz yang merupakan Ketua Ranting Partai Keadian Sejahtera (PKS) sedang berduan dengan seorang perempuan muda di kamar mandi.

Ketika digerebek warga bersama lulusan Kairo itu, perempuan yang belum diketahui namanya tersebut dalam keadaan telanjang dada.

Mardiatoz sempat menolak ditarik keluar rumah dan mengarahkan pisau kepada warga. Warga pun langsung menelepon polisi dari Binjai Barat.



Tribunnews.com


Foto: Ilustrasi Rekrutmen CPNS Kementrian Kelautan dan Perikanan: 5 Lulusan Terbaik Dari Universitas di Indonesia


Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berencana merekrut pegawai negeri sipil baru untuk kementeriannya pada tahun ini. Menurut Susi, pihaknya akan merekrut sekitar 200 PNS baru untuk menggantikan PNS yang diberhentikan secara hormat oleh kementeriannya.

"Tinggal menunggu surat dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi," kata Susi saat ditemui di Auditorium Sekolah Tinggi Perikanan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat, 26 Agustus 2016.

Susi mengatakan program penghentian dengan hormat atau golden handshake itu tinggal menunggu surat resmi dari Kementerian Pendayagunaan untuk dilakukan. Bagi Susi, hal ini merupakan langkah memperbaiki kualitas sumber daya manusia di kementeriannya.

Meski perekrutan PNS sedang dilakukan moratorium, kata Susi, kementeriannya sudah mendapat persetujuan dari Kementerian Pendayagunaan untuk merekrut PNS baru. "Kami akan berhentikan 896 orang, maka boleh memasukkan 200 orang," ujarnya.

Susi berencana merekrut lima lulusan terbaik dari tiap universitas di Indonesia. Ia mengatakan hal itu dilakukan agar kementeriannya bisa merekrut putra-putri terbaik untuk bekerja di kementeriannya, tapi tetap melalui proses seleksi. "Kami proses juga."

Susi juga mengatakan kepada wisudawan Sekolah Tinggi Perikanan hari ini agar bekerja di dalam negeri saja serta membantu meningkatkan pengelolaan laut dan hasilnya. Ia menekankan pentingnya integritas dan kejujuran kepada para wisudawan itu.
Foto: Sri Mulyani Saat Diwawancara Wartawan | kompas.com

Menteri Keuangan Sri Mulyani memutuskan untuk menunda pengucuran dana transfer ke daerah pada APBNP 2016 sebesar Rp 72,9 triliun.
Dari jumlah tersebut, Rp 23,3 triliun merupakan dana tunjangan profesi guru seluruh Indonesia yang merupakan dana transfer khusus (DTK).
"Kami melakukan penyesuaian untuk yang DAK non-fisik, terutama untuk tunjangan profesi guru. Ini saya mohon jangan seolah-olah (pemerintah) dibaca tidak punya komitmen ke pendidikan," ujar Sri Mulyani saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Kamis (25/8/2016).
Ia menuturkan, penundaan pengucuran tunjangan profesi guru dilakukan setelah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melakukan penelusuran anggaran atas dana transfer ke daerah tahun anggaran 2016.
Seperti diketahui, pemerintah sedang melakukan penghematan besar-besaran untuk mencegah melebarnya defisit dana anggaran APBN-P 2016.
Pada APBN-P 2016, total dana anggaran tunjangan profesi guru sebesar Rp 69,7 triliun. Namun, setelah ditelusuri, Rp 23,3 triliun merupakan dana yang over budget atau berlebih. Sebab, dana anggaran guru yang tersertifikasi ternyata tidak sebanyak itu.
"Jadi gurunya memang enggak ada atau gurunya ada, tetapi belum bersertifikat, itu tidak bisa kami berikan tunjangan profesi. Kan tunjangan profesi secara persyaratan (berlaku) bagi mereka yang memiliki sertifikat. Coba bayangkan sebesar itu, Rp 23,3 triliun sendiri," kata Sri Mulyani.
Ia berharap, pemerintah bisa menjadikan kejadian over budgettunjangan profesi guru sebagai pembelajaran dalam perencanaan anggaran ke depan.
"Ini barangkali pembelajaran untuk perencanaan (anggaran) yang lebih baik sehingga kita tidak membuat over budgeting yang membuat beban yang luar biasa besar," kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

kompas.com


Foto: Syahrini dan Luna Maya | Google.com


Begitu gemerlap gaya hidup para selebriti Indonesia.

Syahrini, misalnya, gaya liburan mewahnya dengan jet pribadi, selalu bikin silau banyak orang.

Pagi di Singapura, sorenya sudah di Italia, sudah biasa.

Pagi di Jakarta, sorenya dinner di Paris, itu lumrah!



Foto: Syahrini | Google.com


Sebenarnya berapa sih honor Syahrini sekali menyanyi?


Berita CAS mencoba menelusuri kabar kasuk-kusuk soal honor para selebriti papan atas Indonesia tersebut dari berbagai sumber.

Foto: Syahrini | Google.com

Termasuk berbagai pihak yang pernah mengundang para artis tersebut ke acara-acara mereka.
Berikut ini hasil penelusuran tentang info tarif atau honor sejumlah artis sekali tampil menyanyi atau akting di film:

Foto: Syahrini | Google.com

Kalau bertanya berapa honor Syahrini sekali tampil di atas panggung, tentu tak akan ada jawaban kalau yang ditanya adalah manajernya atau Syahrini-nya sendiri.

Tapi bertanyalah pada beberapa pihak yang pernah mengundangnya.

Seperti saat Syahrini diundang di sebuah acara di Kota Jembrana, Bali, pertengahan Agustus 2016, lalu, Tribun Bali sempat menanyakan berapa honor Syahrini?

"Tak sampai Rp 150 juta, " jawab seorang panitia penyelenggara yang enggan disebutkan namanya.

Dari sumber lain yang tidak mau disebutkan namanya lain di sebuah stasiun TV swasta menyebut info berbeda.

Dalam sekali manggung pelantun lagu Sesuatu ini bisa mencapai honor Rp 60 - 250 juta.

Tak heran jika Syahrini selalu berlibur ke luar negeri dan memiliki beberapa koleksi barang branded.

Foto: Luna Maya | Google.com

Luna Maya termasuk artis yang kerap muncul di layar kaca, televisi.

Banyak orang penasaran, berapa tarif mantan pacar Ariel Noah itu sekali manggung atau tampil di TV?

Foto: Luna Maya | Google.com

Sumber menyebut angka sekitar Rp 10 juta.

Ya, memang tidak setinggi Syahrini.

Tapi frekuensi kemunculan dia cukup tinggi juga.

Foto: Luna Maya | Google.com

Tak heran jika pacar Reino Barack itu bisa membuka bisnis- bisnis baru yang membantunya untuk mendapat penghasilan lebih di luar jalur hiburan.

Tribunnews,com


Kamis, 25 Agustus 2016

Pemuda Nias melakukan atraksi Tari Perang di Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumatera Utara, Indonesia. Para penari mengenakan pakaian asli dari kulit kayu, topi dari sabut kelapa dan ijuk, parang, perisai, lembing, dan alas kaki juga dari sabut kelapa. | Dame Ambarita/sumutpos.co



Tari Perang Nias selama ini berhasil mencekam penonton. Ritme teriakannya, hentakan kakinya, hingga ayunan lembingnya benar-benar mampu menghadirkan suasana perang. Nah.. bayangkan saja saat tarian ini ditampilkan di tengah kampung adat asli Nias, di dekat Hombo Batu asli, dengan para penari lengkap dengan seragam prajurit zaman itu. Tarian perang di Orahili Fau itu sungguh mencekam.

-----------------------------------------
Dame Ambarita, Nias | Sumut Pos
-----------------------------------------
Berbeda dengan atraksi tari Perang Nias yang selama ini dipertontonkan di berbagai kesempatan, para penari Perang di Desa Orahili Fau tidak mengenakan seragam dari bahan kain biasa. Melainkan asli dari kulit kayu berwarna coklat. Bahkan ada yang mengenakan baju asli dari bahan ijuk: hitam, kaku, kasar. Wih...

Topi perangnya juga asli... dijalin dari sabut kelapa. Alas kaki asli dari sabut kelapa. Perlengkapan perangnya pun parang asli beserta perisai asli. Hanya lembingnya saja yang tidak asli, takut menciderai penonton saat dilempar ke pihak lawan dan ditangkis. Satu hal yang tidak asli adalah para penari mengenakan celana pendek hitam. Dulunya, celana itu tidak ada. Prajurit kala itu hanya mengenakan cawat yang terbuat dari kulit kayu.

Tari Perang di desa ini disebut Fanufwo, menceritakan kisah perang antardesa, yakni Desa Orahili Fau dan Desa Bawomataluo, yang sebenarnya masih kakak adik.

Awalnya, Desa Orahili Fau adalah desa induk. Karena serangan pasukan Belanda pada tahun 1863 yang membumihanguskan desa itu, nenek moyang mereka menyelamatkan diri ke Desa Majine. Setelah beberapa tahun di tinggal di desa kecil tandus itu, dari empat puak kakak beradik, tiga puak kembali ke desa asli. Satu puak tetap tinggal di Desa Majine.

Tetapi karena masih was-was dengan serangan Belanda, ketiga puak marga Fau itu memilih membangun desa baru di atas desa induk, yakni Desa Bawomataluo.

Setelah beberapa generasi, dua puak yang lebih muda memilih kembali ke Orahili Fau, sedangkan puak yang lebih tua tetap tinggal di Bawomataluo.

Karena rumah adat besar sudah dibakar Belanda, kakak beradik ini sepakat membangun rumah adat besar di masing-masing desa. Disepakati, pembangunan secara gotong-royong dilakukan pertama di Desa Bawomataluo.

Setelah rumah adat ini selesai, giliran membangun rumah adat besar di Desa Orahili Fau. Namun saat pembangunan dimulai, puak si abang dari Desa Bawomataluo memilih pergi berburu sehingga tidak ikut gotong royong.

Inilah asal mula perang. Si adik yang terus menunggu kedatangan si kakak membantu membangun rumah adat, menjadi kesal. Terjadilah perang antardesa.

”Dalam perang itu, kepala suku Orahili Fau tewas,” kata Matius Manao, koreografer sanggar dan pencipta atraksi-atraksi se Nias Selatan, yang menyusun ulang Tari Perang untuk ditampilkan bagi rombongan trip.

FAMADAYA HASHI: Sebanyak 50-80 warga melakukan atraksi Famadaya Hashi, yakni upacara pemakaman penghulu adat yang gugur dalam perang (semacam opera) di Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sumut, Indonesia. Para penari pria mengenakan pakaian asli perang zaman dulu, sementara para wanita mengenakan pakaian bangsawan warna kuning dan merah. | Foto: Dame Ambarita/sumutpos.co


Adegan tari perang semakin mencekam saat lembing-lembing dilemparkan... dan ditangkis! Saat ditangkis, lembing terlempar ke tengah lingkaran penari. Penonton pun dihalau keluar batas yang ditetapkan. Demi keselamatan penonton sendiri. Fiuh... seru!

Para prajurit mengenakan perlengkapan tutup kepala yang disebut Laeru. Khusus untuk penghulu adat, penutup kepalanya disebut Laeru Niforai, terbuat dari kuningan (dulunya dari emas asli).

Kemudian ada perlengkapan kalabubu, yaitu kalung yang terbuat dari tempurung atau tanduk binatang, yang bagian belakangnya terbuat dari kuningan ataubesi. Fungsinya sebagai penahan pedang kalau leher ditebas lawan. Beratnya dahulu mencapai 2 kg. Sekarang standar hanya ½ sampai 1 kg. Besi untuk kalung diperoleh dari Desa Lahusa Fau, yakni desa tertua penghasil tambang besi dan kuningan di Nias. Sampai sekarang kabarnya masih beroperasi.

Perlengkapan berikutnya disebut ereba, mirip rompi. Dulu bahannya bisa dari kaleng, baja, kulit kayu, dan ijuk. ”Masing-masing prajurit menyediakan perlengkapannya sendiri,” kata Kepala Suku Orahili Fau, Miliar Fau.

Pemuda Nias melakukan atraksi Tari Perang di Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumatera Utara, Indonesia. Para penari mengenakan pakaian asli dari kulit kayu, topi dari sabut kelapa dan ijuk, parang, perisai, dan lembing. | Foto: Dame Ambarita/sumutpos.co


Penonton harus menjaga jarak karena lembing benar-benar dilontarkan dan ditangkis. 

Untuk melukai atau membunuh lawan, ada tolege alias parang dan toho alias tombak/lembing. Plus baluse atau perisai untuk melindungi diri.

Dan tidak lupa, Balobalo Gahe alias alas kaki, terbuat dari sabut kelapa atau kulit waru.

”Seluruh perlengkapan itu selalu tersedia di rumah setiap prajurit, sebagai bentuk mawas diri karena desa tetangga bisa saja datang menyerang sewaktu-waktu.

Untuk memilih prajurit, syaratnya hanya satu: bisa lompat batu. Soal batasan umur, ditentukan pimpinan perang,” kata sang kepala suku.


Atraksi Tari Perang di Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumatera Utara, Indonesia menampilkan lempar lembing ke pihak lawan, yang ditangkis dengan cekatan. Penonton diminta menjauh dari arena 'perang'. | Foto: Dame Ambarita/sumutpos.co


Fanufwo atau tarian perang yang ditampilkan itu, tambah Matius Manau, adalah bagian dari atraksi Famadaya Hashi (upacara pemakaman penghulu adat yang gugur dalam perang), semacam opera ala Desa Orahili Fau. ”Jalan ceritanya bisa berbeda antardesa,” cetusnya. Yang pasti, kata dia, Tari Perang yang dikenal sebagai khas Nias, aslinya berasal dari Desa Orahili Fau.

Famadaya Hashi dilakonkan 50-80 orang pria dan wanita. Peran penari wanita tidak terlalu banyak, hanya sebagai pelengkap jalan cerita. Sementara untuk tarian, para pria sangat dominan. Dalam atraksi ini, peran para wanita baik gadis maupun ibu-ibu, hanya menyambut tamu, menonton prianya perang, dan menangis saat kepala suku tewas dalam perang.

Pakaian para wanita didominasi kuning dan merah. Terbuat dari kain asli. Merah artinya berani. Kuning bermakna keturunan bangsawan. Warna hitam biasa dipakai prajurit.

Adapun status atau kasta di Nias umumnya dan di Orahili Fau khususnya, bisa dilihat dari topi yang dikenakan seseorang.


Beberapa bentuk penutup kepala yang dikenakan prajurit dalam perang antardesa, dipertontonkan kembali dalam atraksi Famadaya Hashi di Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumatera Utara, Indonesia. | Foto: Dame Ambarita/sumutpos.co


Sabuk kelapa misalnya, dikenakan prajurit perang. Hiasan emas di kepala dikenakan penatua adat. Emas itu konon dibeli dari pedagang Aceh, yang ditukar dari anak-anak gadis keturunan kasta yang lebih rendah. Kasta bangsawan pada zaman itu mengenakan baju dan cawat dari kain yang ditenun dari kapas.
Bagi wisatawan yang ingin lebih jauh menikmati suasana asli Desa Orahili Fau, bisa menginap di rumah penduduk, dan menikmati masakan nikmat yang disajikan.

Oh satu lagi... rumah adat di desa ini sedikit banyak mirip rumah adat Batak Toba. Ada ’kursi panjang’ di bawah lawa-lawa yang menempel ke dinding bagian depan rumah. Jika ingin menonton kegiatan desa, para wanita, anak-anak, maupun orangtua bisa melihat dari celah-celah tiang, sembari duduk di atas ’kursi panjang’ ini.

Pada malam hari, bisa tidur di atas sejenis area datar di bawah ’kursi panjang’. Area ini lebarnya sama dengan lebar lantai rumah, hanya saja dibangun lebih tinggi setara tinggi ranjang modern. Area ini sekaligus berfungsi tempat makan, ruang keluarga, dan sebagainya.

Untuk toilet dan kamar mandi, umumnya setiap rumah memiliki versi modern.


Kampung Adat Ini Pemilik Hombo Batu Tertinggi di Nias


Hombo Batu Ada Ritualnya, Anak-anak Latihan Pakai Tali Yeye


Efek Jokowi Ke Kepulauan NIAS: PLN Membabi Buta Memadamkan Listrik di Nias Selatan


Tertarik menikmati suasana itu? Yuk ke Orahili Fau!


Dame Ambarita | Sumut Pos


Sebelum melompati Hombo Batu setinggi 2,15 meter, anak-anak di Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumatera Utara, Indonesia, sejak kecil berlatih lompat karet. Kemampuan melompati batu di zaman dulu menjadi syarat seorang pemuda menjadi prajurit. | Foto: Dame Ambarita/sumutpos.co


Di berbagai desa, main lompat karet adalah mainan anak perempuan. Tetapi di Desa Orahili Fau, lompat karet justru mainan anak laki-laki. Permainannya relatif keras. Anak-anak melompati tali karet yang dipegangi dua orang, dengan berlari di atas halaman desa yang dilapisi bebatuan. Tempat mendaratnya pun bebatuan. Permainan yang rawan cedera kaki, awww...


-----------------------------------------
Dame Ambarita, Nias | Sumut Pos
-----------------------------------------


Belasan pemuda Orahili Fau berturut-turut melompati Hombo Batu dalam atraksi khusus menyambut rombongan Indonesian Trip Advisors, yang berkunjung ke desa mereka, akhir pekan lalu.

Satu pemuda berlari dan hup... ia melompat... disusul satu pemuda lagi... seorang lagi... lagi.. lagi... lagi semua hanya hitungan detik. Alhasil, para fotografer yang ingin mengabadikan momen spesial itu rada kewalahan mengambil angle dari beberapa sudut.

Atraksi mereka diiringi sorakan meriah ratusan warga desa yang antusias menonton. Jika seorang berhasil melompat sempurna, sorakan meriah diterimanya. Bagi yang jatuhnya tidak sempurna, warga bersorak rada kecewa. Meski tidak mengurangi dukungan terhadap pemuda-pemuda istimewa itu.

Pemuda yang mampu tampil dengan kaki mengayuh di udara, mendapat sorakan lebih keras. Konon, keterampilan itu perlu keahlian dan kecepatan khusus, karena mereka harus mendarat di pasir keras dalam hitungan detik. Salah mengukur, kaki bisa tidak stabil saat mendarat.

Bagaimana para pemuda Nias belajar melompati batu seperti itu?

Ternyata tidak ada yang instan. Mereka harus berlatih sejak kecil. Caranya, dengan melompati tali karet yang dipegangi dua orang. Secara bertahap, tinggi tali karet ditingkatkan seiring kemampuan si anak. Mirip dengan permainan lompat tali ala anak-anak perempuan. Bedanya, lompat tali ala anak perempuan dilakukan dengan mengaitkan kaki kanan ke tali karet, menariknya ke bawah, lantas menarik kaki kiri melewatinya. Itupun dilakukan di atas tanah berpasir, atau tanah berumput tebal.
Sedangkan di Orahili Fau, tali karet itu harus dilompati tanpa sedikit pun menyentuhnya. Dan semuanya dilakukan di atas bebatuan keras. Uhh....

Mengapa pemuda Nias harus mampu lompat batu?

Pemuda Nias melakukan atraksi Hombo Batu alias lompat batu di atas batu setinggi 2,15 meter, di Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumatera Utara, Indonesia. Kemampuan melompati batu di zaman dulu menjadi syarat seorang pemuda menjadi prajurit. | Foto: Dame Ambarita/sumutpos.co



Konon dulu, jelas Kepala Suku Orahili Fau, Miliar Fau, desa-desa di Nias sering berperang satu sama lain. Misalnya, karena persoalan tapal batas desa, karena pembunuhan, penculikan, dan sebagainya.
Untuk menghindari serangan, banyak desa yang memasang pagar batu yang tinggi sebagai pertahanan, plus ’pagar gaib’. Nah, untuk melompati pagar inilah, para pemuda dilatih lompat batu. Tinggi batu dibuat setara tinggi pagar desa lawan. Dan untuk melompati ’pagar gaib’ desa lawan, di bawah hombo batu ada tumbal kepala manusia. Jumlahnya bisa beberapa kepala. Keberadaan tumbal ini sebagai ujian bagi para pemuda untuk melihat apakah mereka mampu melompati ’pagar gaib’.

Karena itulah... atraksi lompat batu di desa ini bukan sembarangan atraksi. Ada ritual khusus di sana. Sebelum Hombo Batu dimulai, penatua desa akan ’membuka’ batu dengan ’doa’. Dan setelah atraksi selesai, penatua akan ’menutup’ batu juga dengan ’doa’.

Dalam sejarah Desa Orahili Fau, ada belasan tumbal kepala manusia –disebut nifo binu-- di berbagai titik. ”Ada tumbal kepala manusia di bawah Taneme Wahe (pusat desa), tumbal di bawah rumah panjang, tumbal di bawah hombo batu, bahkan tumbal untuk mengawal kuburan pemimpin desa,” jelasnya,

Pemuda Nias melakukan atraksi Hombo Batu alias lompat batu di atas batu setinggi 2,15 meter, di Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumatera Utara, Indonesia. Kemampuan melompati batu di zaman dulu menjadi syarat seorang pemuda menjadi prajurit. | Dame Ambarita/sumutpos.co


Dulu, jenazah pemimpin desa diangkat di atas tiang-tiang, hingga membusuk di sana. Jenazah itu harus dikawal hingga 10 tumbal kepala manusia.

Dari manakah tumbal-tumbal itu diperoleh?

”Dari mana saja. Para tumbal bisa saja warga desa lain yang sembarang ditemui, atau warga desa Orahili Fau yang tidak pernah menginjak desanya. Para prajurit berburu tumbal ke seluruh Nias. Dan setiap kepala dihargai 6 pon emas,” katanya.

Karena itulah, pembuatan hombo batu tak sembarangan. Hombo batu adalah kriteria puncak pembuatan sebuah desa.

Saat ini, tradisi tumbal tidak ada lagi seiring masuknya agama ke desa ini. 


Dame Ambarita | Sumut Pos


Para penatua adat di Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumatera Utara, Indonesia, duduk mendampingi tamu kehormatan, menonton atraksi Tari Perang yang ditampilkan warga desa. | Dame Ambarita/sumutpos.co


Nias identik dengan atraksi Lompat Batu (hombo batu).... atraksi Lompat Batu identik dengan Nias. Tetapi tahukah tuan/puan? Ternyata atraksi unik ini hanya ada di lima desa di seluruh Kepulauan Nias. Dan kelima desa itu seluruhnya berada di Nias Selatan. Salahsatunya di Desa Orahili Fau, desa tertua kedua di Nias --setelah Desa Gomo--. Desa ini juga desa asli asal Tari Perang yang mencekam itu.
--------------------------
Dame Ambarita, Nias | Sumut Pos
--------------------------
Akhir pekan lalu, Sumut Pos bersama rombongan Indonesian Trip Advisors berkunjung ke Desa Orahili Fau. Dari Bandara Binaka Gunungsitoli ke desa ini bisa ditempuh dengan waktu 2,5 hingga 3 jam perjalanan naik mobil. Mobil bisa dirental dari bandara.

Desa Orahili Fau berada di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sumut. Desa ini terletak persis di bawah Desa Bawomataluo --yang sudah lebih dahulu terkenal di kalangan wisatawan sebagai Desa Adat di Nias--, meski sebenarnya Orahili Fau lebih tua dibanding Bawomataluo. Nenek moyang warga kedua desa ini awalnya adalah ’kakak beradik’ marga Fau.

Desa Orahili Fau berada di dataran sekitar tiga meter di atas jalan lintas antar desa. Gerbangnya bisa ditemukan setelah kita menaiki sejumlah anak tangga.

Saat rombongan tiba pukul 10 pagi --setelah sehari sebelumnya bermalam di Pantai Sorake yang indah--, Desa Orahili Fau tampak meriah dengan kegiatan puluhan warganya. Mereka sedang bersiap untuk pertunjukan atraksi tari perang dan lompat batu, yang akan ditampilkan khusus bagi rombongan trip.

Saat rombongan lewat, warga desa memasang wajah ramah dan murah senyum. ”Yahowuuuu... (selamat),” sapa mereka dengan senyum mengembang.

Rombongan trip pun kontan membalas semangat: ”Yahowuuu...!”


Gadis-gadis berdandan di tengah desa adat Orahili Fau, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumatera Utara, Indonesia. Para gadis yang mengenakan baju adat warna kuning dan merah bermakna mereka keturunan bangsawan. | Dame Ambarita/sumutpos.co



Saat Sumut Pos melewati gerbang desa, suasana perkampungan megalitik Nias langsung meresap di hati. Bebatuan di depan rumah menjadi pemandangan pertama yang terekam. Bebatuan lebar dan panjang dengan bentuk berbeda-beda itu, disusun berderet di depan rumah-rumah. Letaknya sejajar membentuk garis lurus mengikuti barisan rumah. Fungsinya sebagai tempat duduk.

Puluhan rumah adat berbaris di kiri kanan. Dan di ujung --berhadap-hadapan dengan pintu gerbang desa--, barisan rumah berbelok ke kiri dan ke kanan (panjangnya tidak sama) hingga membentuk lanscape huruf T tidak sempurna.

Sebagian besar rumah memiliki ciri khas berupa dua tiang bulat sebesar pelukan anak remaja, membentuk huruf V di depan tiang-tiang penopang rumah. Di tengah huruf V itu kita bisa duduk santai menikmati suasana sore.

Rumah adat dibangun dari bahan kayu, aslinya beratap sejenis rumbia. Hanya saja saat ini sebagian besar sudah diganti seng. Konon trauma dengan ancaman kebakaran.

Di setiap atap rumah, ada bukaan berukuran sekitar panjang 2 meter lebar 1 meter, yang bisa dibuka-tutup. Nama bukaan ini ’lawa-lawa’. Fungsinya sebagai ruang udara dan cahaya.. dan juga tempat memantau desa. Rumah adat ini tembus satu sama lain, dihubungkan semacam gang antarrumah.

Di tengah desa, ada Omo Oahua alias Balai Pertemuan. Dan di dekatnya terletak Hombo Batu, ciri khas desa adat di Nisel. Tingginya 2,15 meter. Ini merupakan hombo batu tertinggi di Nias. Tinggi itu masih bisa ditambah lagi saat atraksi lompat batu, dengan meminta seorang prajurit berbaring di atas hombo batu untuk dilompati rekan-rekannya, atau menambah kotak kayu.

”Desa kami ini adalah desa tertua kedua di Nias setelah Desa Gomo. Nenek moyang kami konon datang dari kaki pegunungan Himalaya. Makanya kami ada kemiripan dengan orang Tibet,” kata Kepala Suku di Orahili Fau, Miliar Fau yang memiliki gelar Tuha Ilawa Nia alias King of The King, saat berbincang-bincang dengan Sumut Pos.

Lima penghulu adat ikut mendampinginya, yakni Sukaramai Fau, Utusan Fodegedawa Fau, Fake Jisiwa Faum, Okhedei Fau, dan Bahala Manao.


Kepala Suku di Orahili Fau, Miliar Fau gelar Tuha Ilawa Nia alias King of The King (kedua dari kiri), dan para penatua adat yakni Sukaramai Fau gelar Tuha Samaeri Nahono (kiri), Utusan Fodegedawa Fau (tengah), Bahala Manao (dua dari kanan), dan Okhedei Fau (kanan), di Desa Orahili Fau, Nias Selatan, Sumatera Utara, Indonesia. | Foto: Dame Ambarita/sumutpos.co


Miliar menuturkan, setelah dua kali kebakaran yang melanda desa mereka, pertama dibakar Belanda tahun 1863 yang menghanguskan Rumah Adat besar, disusul kebakaran tahun 1944 akibat api dari dapur salahsatu rumah, kini hanya sebagian rumah yang dibangun berarsitektur rumah adat asli.

Untuk membangun sebuah desa adat di Nias Selatan, ada 7 syarat yang harus dipenuhi. Syarat pertama, adanya Taneme Wahe, yakni pusat desa. Bentuknya seperti galian tanah berbentuk bulat seperti sumur di tengah desa. Pusat desa ini diisi tumbal. Konon, tumbal itu berupa kepala manusia, babi putih, dan ayam putih. Jumlah tumbal kepala manusia yang dimasukkan ke dalam Taneme Wahe bisa mencapai belasan kepala. Saat diperlihatkan pada Sumut Pos, Taneme Wahe itu ditutupi semen.

”Tumbal manusia bisa dibunuh di mana pun di seluruh Nias. Prajurit yang membawa tumbal dihargai 6 pon emas saat ini,” kata Miliar Fau, diamini Sukaramai Fau dan para penatua adat lainnya.


Batu-batu yang disusun sebagai tempat duduk, disusun berderet di depan rumah adat Nias di Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumatera Utara, Indonesia. | Foto: Dame Ambarita/sumutpos.co


Syarat kedua, adanya Iri Newali Pakai Tali alias garis tengah halaman desa. Tamu desa yang dihormati diwajibkan berjalan mengikuti garis tengah ini, sehingga bisa berjalan lurus sesuai tuntutan adat. Konon, jarak rumah antara sisi kiri dan sisi kanan sama persis jika dihitung dari garis tengah desa.

Syarat ketiga, Ndrolo Nomo, yakni semacam teras rumah yang sisinya sama lebar kiri kanan.

Syarat keempat, adanya permandian umum yang disebut Hele Mbanua. Pemandian ini dibuat dua unit, yakni untuk laki-laki dan untuk perempuan. Pemandian ini sekaligus sebagai sumber air untuk keperluan desa.

Syarat kelima, adanya pintu gerbang desa alias Bawagoli Mbanua. Gerbang desa ini menjadi satu-satunya pintu masuk desa yang diketahui tamu.


Pemuda Nias melakukan atraksi Hombo Batu alias lompat batu di atas batu setinggi 2,15 meter, di Desa Orahili Fau, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumatera Utara, Indonesia. Kemampuan melompati batu di zaman dulu menjadi syarat seorang pemuda menjadi prajurit. | Foto: Dame Ambarita/sumutpos.co


Syarat keenam, adanya Omo Oahua alias Balai Pertemuan. Di balai inilah berlangsung rapat-rapat adat, rapat desa, dan sebagainya.

Dan syarat ketujuh, adanya Hombo Batu. Dengan adanya hombo batu, sebuah desa lengkap menjadi sebuah desa adat di Nisel. Apa saja syarat mendirikan Hombo Batu, dan syarat melompatinya?


Dame Amabarita | Sumut Pos

Foto: Presiden Jokowi Saat Berkunjung di PLTG Idanoi Gunungsitoli


Efek Presiden Joko Widodo berkunjung ke Kepulauan Nias yang pada kunjungan kerjanya tersebut nenjanjikan penambahan daya PLN untuk kepulauan Nias, PLN Kab. Nias Selatan makin membabi buta memadamkan PLN.

Dari informasi yang diperoleh, pemadaman listrik tanpa konfirmasi dari pihak PLN Rayon Teluk Dalam di wilayah Nias Selatan ini sejak hari Selasa (23/08/2016) malam hari.

Pada hari Rabu (24/08/2016) PLN melakukan pemadaman listrik paling brutal, dimana pemadaman dilakukan sepanjang hari khusus di Jalan Pramuka Pasir Putih, Nari-nari dan daerah lainnya tanpa adanya konfirmasi dari Pihak PLN Rayon Teluk Dalam. Hari ini (Kamis, 25/08/2016) PLN juga kembali memadamkan listrik. Lagi-lagi tanpa konfirmasi.

Menurut kabar yang diterima, pemadaman ini dilakukan karena ada beberapa pohon yang tumbang dijalur pengkabelan PLN. Tetapi sudah dilakukan perbaikan. Dan sangat mengherankan jika pemadaman masih dilakukan.

Atas pemadaman listrik yang tidak jelas tersebut, banyak warga Nias Selatan yang mengeluhkan dan kecewa atas pemadaman yang dilakukan oleh PLN Nias Selatan. Apalagi pada tanggal 24 dan 25 Agustus 2016 adanya penyerahan berkas bagi Pegawai Tidak Tetap (PTT) Daerah untuk wilayah kerja Pemerintah Kab. Nias Selatan dan sangat membutuhkan PLN dalam pengurusan dan pelengkapan berkas yang dianggap kurang.

Banyak pengusaha yang mengalami kerugian akibat pemadaman ini.

Sebelumnya, setelah penambahan mesin genset untuk wilayah Nias Selatan sebanyak 7 unit dengan penambahan kapasitas 6 MW, Nias Selatan bebas dari pemadaman listrk dan berjalan dengan normal (Kabar Nias, 27/05/2016).


Rabu, 24 Agustus 2016

Foto: Tersangka Pengedar Sabu-sabu Saat Ditangkap Sat Narkoba Polres Nias | Polres Nias

Polres Nias berhasi meringkus dua orang yang diduga pengedar sabu-sabu di salah satu warung Jl. Sirao Gunungsitoli, Rabu (24/08/2016). Demikian disampaikan oleh Kasat Res Narkoba Polres Nias, AKP Arius Zega, SH., MH saat jumpa pers sesaat setelah penangkapan tersebut di Kantor Satuan Narkoba Polres Nias

Adapun masing-masing tersangka pengedar narkoba jenis sabu-sabu tersebut, EJ (46) Warga Desa Uwung Jaya, Cibodas, Tanggerang, OH (26), warga Desa Bawozaua Kecamatan Telukdalam, Kabupaten Nias Selatan.

Kasat Res Narkoba Polres Nias, AKP Arius Zega, SH., MH, menjelaskan bahwa penangkapan tersebut berawal dari informasi yang diterima dari warga bahwa ada seseorang yang diduga mengedarkan narkoba jenis sabu diwilayah hukum Polres Nias. Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti dan memantau kedua orang tersebut dengan melakukan penyamaran.

Sehingga pada saat yang tepat, tersangka sedang makan di salah satu Warung Nasi di Jalan Sirao Gunungsitoli, Personil Sat Res Narkoba melakukan Penyergapan, dan setelah dilakukan Penggeledahan kepada EJ, ditemukan 7 (tujuh) bungkus paket yang di diduga Narkotika jenis sabu-sabu.

Hingga pada saat berita ini diturunkan Satuan Narkoba sedang makukan pemeriksaan terhadap keduanya dan masih akan segera ditetapkan jadi tersangka, OH yang berprofesi sebagai Supir Mobil Rental tersebut tetap akan dilakukan Pemeriksaan, dan dari Hasil pemeriksaan nanti kita lihat sejauh mana keterlibatan yang bersangkutan, dan jika nantinya tidak terkait maka akan di Lepas, “Ujar AKP Arius Zega.


Foto: Sat Narkoba Polres Nias Saat Memamerkan Barang Bukti Jenis Sabu : Polres Nias


Kapolres Nias AKBP Bazawato Zebua,SH,MH ketika di konfirmasikan Oleh Paur Humas Polres Nias Aiptu O. Daeli, perihal penangkapan tersebut mengatakan, Mengapresiasi keberhasilan Sat Res Narkoba tersebut, “Ya Sat Narkoba berhasil menangkap yang di duga Pengedar dan Saat ini sedang melakukan Pengembangan dari keterangan yang di amankan tersebut, mudah-mudah menuai hasil, karena saat ini kita memang harus Perang Narkoba untuk menyelamatkan Generasi Kita” Ujar Kapolres Singkat.


Popular Posts

Blog Archive